Memangnya harus paham Islam secara mendalam dulu baru boleh keluar dari Islam?
Latar Belakang
Waktu kalian Muslim, pernah kah ketika kalian ragu dengan Islam, kalian berfikir seperti ini:
"Aku ragu dengan Islam, ahh tapi aku belum paham agama banget, pemahamanku masih kecil, jadi ya aku ga berhak untuk ragu seperti ini"
Atau mungkin yang udah keluar dengan Islam. Pernah kah kalian denger ucapan seperti ini:
"Ah, kamu belum paham X Y Z, pantesan kamu keluar, kamu ga tau banyak soal Islam"
Memang bisa saja keraguan seseorang terjawab seandainya dia lebih tahu tentang Islam. Masalahnya, banyak orang yang memakai pola-pikir ini secara absolut. Dalam artian mereka mengatakan bahwa seseorang harus faham dengan Islam dulu, baru berhak untuk keluar, jika tidak, maka tidak terjustifikasi keluarnya. Atau seseorang yang tidak memahami Islam dengan mendalam, lalu murtad, langsung dicap murtadnya tidak valid. Menurutku ini argumen yang bermasalah.
Masalah Pertama: Logika Terbalik
Mereka mengatakan bahwa keluar dari agama yang kamu tidak pahami dengan dalam itu tindakan yang salah. Tapi bukannya justru kebalik? Coba balik pertanyaannya:
Mengapa kamu mempercayai sesuatu sedangkan kamu sendiri tidak mengetahuinya dengan dalam?
Bukankah justru lebih janggal jika seseorang meyakini sesuatu yang tidak dia pahami, tidak memiliki justifikasi yang kuat untuk meyakininya, dan bahkan mudah meragukannya sendiri? Karena dengan ini akan muncul pertanyaan:
Jika kamu sendiri tidak memahami keyakinanmu, lalu apa yang menjadi dasar kamu meyakini hal tersebut?
Jika sejak awal seseorang memang tidak memiliki justifikasi yang kuat untuk mempertahankan suatu keyakinan, maka meninggalkan keyakinan tersebut merupakan keputusan yang rasional.
Kenyataannya, banyak orang meyakini sesuatu bukan karena mereka terlebih dahulu menyimpulkan bahwa hal tersebut benar, melainkan karena faktor-faktor lain yang tidak mereka pilih sendiri, seperti lingkungan keluarga, budaya, atau tempat mereka dibesarkan.
Masalah Kedua: Kesimpulan Absurd
Aku akan menggunakan Reductio Ad Absurdum. Jika dikatakan bahwa seseorang harus memahami Islam secara mendalam terlebih dahulu sebelum bisa keluar atau menolak keyakinan Islam, maka ini sebenarnya sama saja dengan mengatakan bahwa untuk menolak suatu keyakinan, baik keyakinan dari lahir atau tidak, seseorang harus memahami keyakinan tersebut terlebih dahulu.
Maka, dengan logika yang sama, apakah seorang Muslim juga tidak boleh menolak keyakinan Mormonisme hanya karena banyak Muslim yang tidak memahami Mormonisme secara mendalam? Atau gausah jauh jauh deh, banyak Muslim yang tidak memahami Kekristenan, Buddhisme, atau Hinduisme secara mendalam. Lantas, apakah mereka juga tidak boleh menolak keyakinan-keyakinan tersebut?
Nah, di sini kita bisa melihat implikasi absurd dari klaim bahwa seseorang harus memahami suatu keyakinan secara mendalam terlebih dahulu sebelum bisa keluar atau menolaknya.
Antisipasi Counter-Argument (Opsional untuk dibaca)
Untuk masalah pertama, aku mengatakan, “Mengapa kamu mempercayai sesuatu sedangkan kamu sendiri tidak mengetahuinya secara mendalam?” Mungkin ada yang membantahnya seperti ini:
“Bukankah banyak hal yang kita yakini meskipun kita sendiri tidak memahaminya secara mendalam? Misalnya dalam sains. Berapa banyak orang yang benar-benar memahami lubang hitam, atom, Big Bang, atau bahkan teori-teori ilmiah lainnya secara mendalam? Yang benar-benar memahami hal-hal tersebut secara mendalam kan biasanya hanya para ilmuwan yang memang ahli di bidangnya. Tapi kita tetap mempercayainya, bukan?
Hal yang sama juga berlaku pada sejarah dan teknologi. Kita percaya bahwa dinosaurus pernah hidup, bahwa alam semesta memiliki sejarah tertentu, bahwa Bumi memiliki usia tertentu, atau bahwa berbagai peristiwa sejarah memang pernah terjadi, meskipun kita sendiri tidak mempelajarinya secara mendalam.
Teknologi yang kita gunakan setiap hari pun kita sebenarnya tidak memahami cara kerjanya secara mendalam. Apakah kita benar-benar tahu bagaimana pesawat bisa terbang, bagaimana mikroskop elektron bekerja, bagaimana internet mengirimkan informasi, atau bagaimana sebuah ponsel yang begitu kecil bisa digunakan untuk menonton video dan berkomunikasi dengan orang yang berada ribuan kilometer jauhnya?
Kita mempercayai begitu banyak hal yang sebenarnya hampir tidak kita pahami. Lantas, apakah itu berarti kepercayaan tersebut tidak rasional?”
Ini bantahan yang bagus. Aku setuju bahwa kita sering mempercayai sesuatu yang tidak kita pahami secara mendalam. Tapi menurutku, yang jadi masalah bukan hanya apakah kita memahaminya dengan dalam atau tidak, tapi juga justifikasinya.
Misalnya, aku tidak memahami lubang hitam, atom, Big Bang, atau cara kerja internet secara mendalam. Tapi secara epistemik rasional bagiku untuk mempercayainya, karena ada orang-orang yang memang ahli di bidang tersebut, dan ada konsensus yang terbentuk secara konsisten di antara para ahli. Jadi, sebagai orang awam, kita bisa mengikuti para ahli untuk hal-hal yang tidak kita pahami secara mendalam. Kalau teknologi, kenapa kita mempercayainya? Ya, jawabannya jelas karena teknologi bekerja di depan mata kita sendiri.
Nah, menurutku agama punya masalah yang berbeda. Memang ada ahli agama, seperti ustaz untuk Islam, pendeta untuk Kristen, rabbi untuk Yahudi, dan sebagainya. Tapi mereka ahli dalam memahami dan menjelaskan suatu agama, bukan ahli dalam menentukan agama mana yang benar. Ustaz bisa sangat ahli dalam Islam, tapi itu tidak otomatis berarti dia punya keahlian khusus untuk menentukan apakah Islam benar dibandingkan agama lain.
Kalau memang ada suatu bidang yang bisa secara objektif menentukan agama mana yang benar, kita seharusnya bisa menemukan para ahli di bidang tersebut dan melihat adanya jawaban yang relatif konsisten. Tapi kenyataannya tidak begitu. Jawabannya sangat beragam. Bahkan dalam agama yang sama, para ahlinya pun bisa berbeda pandangan soal interpretasi mana yang benar.
Aku ga bilang bahwa perbedaan pendapat ga pernah terjadi dalam sains, tapi dalam agama perbedaan seperti itu jauh lebih sering terjadi dan jauh lebih sulit diselesaikan. Buktinya, banyak perbedaan pendapat dalam agama yang sampai sekarang masih belum selesai, sementara dalam sains kita terus menggali informasi dan menemukan bukti-bukti baru yang bisa membantu menyelesaikan perbedaan tersebut.
Di sini aku sebenarnya ga sedang mengkritik agama, dan aku ga mengatakan hanya karena tidak ada ahli yang dapat menentukan agama mana yang benar otomatis agama itu salah. Poin ku itu bahwa menentukan kebenaran suatu agama sebagai orang awam memang jauh lebih kompleks. Kita ga bisa sekadar tanya "ahlinya", karena kita ga punya semacam bidang keahlian objektif yang bisa dijadikan rujukan untuk menentukan agama mana yang benar. Beda dengan sains, sejarah, dan bidang lainnya.
Aku juga ga sedang membandingkan sains dengan agama. Justru karena keduanya berbeda, secara epistemik kita, sebagai orang awam, punya alasan untuk mengikuti konsensus dalam sains, tapi belum tentu punya alasan yang sama ketika berbicara soal kebenaran suatu agama.
Jadi, sebenarnya kesimpulanku sederhana, kita perlu punya justifikasi yang cukup untuk mempercayai sesuatu yang kita sendiri tidak pahami secara mendalam. Dan menurutku, justifikasi yang kita punya untuk mempercayai klaim sains atau sejarah ga bisa begitu saja disamakan dengan justifikasi untuk mempercayai bahwa suatu agama adalah agama yang benar.
Posted Sep 6, 2026, 3:27 AM UTC